“Oppa, aku akan sangat sibuk sekali…” katanya lirih. Aku memandang wajahnya, aku bisa melihat gurat kelelahan di wajahnya, dia pasti kurang tidur karena tugas kuliahnya yang menumpuk.

 

“Ne, oppa tahu, kau kan sudah di semester akhir sayang, sebentar lagi ujian praktek, skripsi, ujian sidang lalu revisi kan?” aku membelai rambutnya yang bersandar sempurna di pundakku. Wangi buah menguar kuat ke seluruh  indera penciumanku. Aku selalu suka aroma rambutnya. ^^

 

“Oh.. oppa tahu jadwalku?” serunya seraya mengangkat kepalanya. Kaget? Mungkin? Tapi, kami kan pernah membahas tentang jadwal kuliahnya yang semakin padat akhir-akhir ini, ia juga sudah mengatakannya padaku kan? Hah, pasti gadis ini lupa lagi!

 

“Kenapa kaget seperti itu, Hye ah? Kau kan sudah mengatakan semuanya pada oppa, sayang? Lupa?” aku balik menatap matanya yang lekat memandangku dengan ekspresi bingungnya. Hah, gadisku yang ekspresif!

 

“Masa iya aku pernah mengatakannya padamu, oppa? Kapan?”

Aku bangkit lalu duduk berjongkok di hadapannya, jangan heran, kami sedang berada di bangku taman depan rumahnya sekarang. Tempat favorit kami. Aku menangkupkan kedua tanganku di kedua pipinya lalu menggoyang-goyangkan pipinya yang sedikit berisi itu.

 

“Dasar Gadisku yang pelupa. Kau sudah mengatakannya sejak dua minggu yang lalu. Apa masih lupa? Sms yang kamu kirimkan waktu saja masih aku simpan sayang…” aku melihat ekspresi wajahnya yang masih sibuk berpikir.

 

“Aku ingat, Oppa!!” ia tersenyum sumringah. “Aku juga ingat jadwalmu oppa, kalian sebentar lagi comeback kan?” ujarnya semangat. Aku mengangguk mengiyakan.

 

Kami berdua terdiam lagi, bukan canggung atau apalah, hanya saja ingin menikmati kebersamaan ini lebih lama. Aku menolehkan kepalaku saat ia menyandarkan kembali kepalanya di pundakku. Tangannya bergerak memutar-mutar ujung kaosnya, entahlah, apa yang sedang dipikirkan gadis di sampingku sekarang. Aku mengintip dari ujung mataku, mencoba melihat ekspresinya. Dia benar-benar gadis yang unik. Berkali-kali kulihat ia membuka mulutnya lalu mengatupkannya lagi dengan cepat, seperti ingin berbicara, tetapi ada sesuatu hal yang menghalanginya.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan?” aku memilih membuka suara lebih dulu.

 

“Ani.” Sahutnya pendek.

 

“Jangan berbohong. Oppa sangat tahu kau itu seperti apa. Cepat katakan saja.” Desakku. Ia mendesah pelan.

 

“Oppa, nanti kita akan sama-sama sibuk kan?”

 

“Ne”

 

Ia terdiam sebentar.

 

“Oppa pasti akan sibuk promosi dan konser kan?” tanyanya lagi.

 

“Betul”

 

“Lalu aku, aku juga akan sangat sibuk. Benar kan?”

 

“Ne…”

 

“Lalu… lalu…”

 

Aku menarik bahuku yang menjadi sandarannya. Dan aku melihat ia menundukkan kepalanya dalam.

 

“Sayang, kau kenapa sih?” aku benar-benar penasaran dengan sikapnya. Kurasa tadi diawal bertemu, kami masih baik-baik saja.

 

“Aniyo… hanya saja, aku pikir, kita pasti akan jadi jarang bertemu. Oppa sibuk, aku juga. Aku pikir, apa tidak apa-apa jika kita tidak berhubungan dulu?” katanya.

 

“Ya, apa maksudmu dengan tidak berhubungan dulu hemm?? Kau ingin kita putus, Hye Kyung ah?” tuntutku. Aku benar-benar tidak mengerti. Oh, tidak akan kubiarkan jika dia ingin putus dariku.

 

“Aniyo Oppa, maksudku, kalau kita tidak usah saling sms dan menelpon atau bertemu, apakah tidak apa-apa?” jelasnya.

 

‘Oh, Tuhan.. tolong aku? Apa yang sedang dipikirkan gadisku saat ini? Bantu aku menyadarkannya! Amin…’ doaku dalam hati.

 

“Hye Kyung ah, oppa tahu kita akan sama-sama sibuk, tapi kalau hanya untuk sekedar membalas pesan atau menelpon sebentar itu bukan masalah. Tidak apa-apa jika kita jarang bertemu, oppa bisa mengerti. Tapi kalau dalam komunikasi, tidak bisa. Oppa tidak mau kita hilang kontak sama sekali. Arraseo??” Tegasku.

 

“Ne, arraseoyo oppa… keunde, kenapa oppa bisa begitu serius??” jawabnya lalu menatapku dengan tatapan menuntutnya itu.

 

“Tentu, kau meminta kita tidak berhubungan dulu, itu salah satu hal-hal negatif dan harus di hindari dalam menjalin hubungan, kau tahu?”

 

“…”

 

“Oppa sangat sedih kau berkata seperti tadi, seolah-olah kita akan berpisah selamanya. Oppa tidak mau, kau itu fangirl akut, bagaimana kalau kita sama-sama tidak memberi kabar, tiba-tiba ada yang lebih perhatian dari oppa, dan kau jatuh cinta padanya. Itu sangat mengerikan, Hye ah…”

 

“…”

 

“Oppa, sangat menyayangimu kau tahu? Ani, bukan hanya sayang tapi oppa juga mencintaimu. Sangat. Kau tahukan, bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita cintai? Itu sangat menyesakkan.”

 

“Aah~~ dari semua perkataan oppa tadi, bisa kutarik kesimpulan kalau oppa sangat sangat mencintaiku. Betulkan?” aku mengangguk pasti. “Wah Oppa, aku ingin pernyataan bukan hanya anggukan.” Protesnya. Hey lihatlah, ia sudah kembali? Dia sudah normal sekarang.

 

“Ne, aku, Lee Donghae mencintaimu, Shin Hye Kyung-ssi… Neomu neomu jeongmal jeongmal jinjja jinjja saranghanda.” Pekikku. Aku tidak peduli lagi dengan kemungkinan tetangga sebelah rumahnya akan marah karena mengganggu istirahat mereka malam ini.

 

“Hah.. bagus sekali oppa, rekaman suaramu sangat sempurna!!” aku melongo parah saat melihat ia memplayback rekaman suaraku. Sementara ia tersenyum puas sambil mengacungkan handphonenya ke arahku dan mulai berlari menjauh.

 

“Ne, aku, Lee Donghae mencintaimu, Shin Hye Kyung-ssi… Neomu neomu jeongmal jeongmal jinjja jinjja saranghanda.”

 

Suaraku.

 

“Kyaaa!!! Shin Hye Kyung, kau mempermalukan ku!! Cepat hapus!” teriakku kalap.

 

“Waeyo? Ini bagus. Akan ku simpan ini sebagai bukti, siapa tahu oppa akan  selingkuh. Haha, lagipula ini jauh lebih romantis daripada yang dahulu Oppa. Hahaha~~”

 

“Ok, Shin Hye Kyung jangan lari kau… tunggu pembalasanku!! Hey, Hey!! Yak, Shin Hye Kyung…..!!”

 

 

Kkeut!!

Hai… aku datang!! Bawa FF super duper amat sangat gaje!! Hahaha~~ aku ngga tahu ini bagus apa ngga??? Oh, ini ceritanya, sebelum comeback 6Jib yaa 😀
Yang baca, boleh donk kasi komen atau saran apa gitu…?? Terserah deh, asal jangan bashing aja…!! Hehehe~~ Typo mohon di maafkan yaa… *ngga sempet ngedit soalnya, kkk

Advertisements